• $arrContentBlog[$strFieldPre.'_title']

Aplikasi Geosintetik Pada Limbah Batu Bara (Ash Yard)

24 May 2021

Menurut Bank Dunia, pada 2015 batu bara menghasilkan 41% energi dunia. Meskipun pemanasan global dan polusi merupakan tantangan serius menurut sebagian besar bukti ilmiah dan pembakaran batu bara merupakan salah satu penyebabnya, kemungkinan besar penambangan dan pemanfaatan batu bara akan terus berlanjut. Berkaitan dengan hal tersebut, ada limbah yang merupakan sisa pembakaran dari batu bara diantaranya adalah Fly ash dan Bottom Ash. Untuk mengelola limbah, yang harus dilakukan adalah pembangun fasilitas dari abu tersebut yaitu dengan membangun fasilitas Ash Dispossal/Timbunan Abu sementara. Air drainase dari tempat penimbunan abu dikumpulkan dalam sebuah kolam pengendapan (ash run off pond) yang terletak di sekitar tempat penimbunan abu, selanjutnya di daur ulang pada proses pengolahan limbah abu.

Limpasan air limbah akan diolah dalam unit pengolahan air limbah sebelum dibuang. Fasilitas tempat penimbunan ash (bottom ash dan fly ash) disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014, tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun. Desain bangunan untuk penimbunan abu meliputi; Lapisan dasar, lapisan geomembran,lapisan pendeteksi kebocoran,lapisan tanah penghalang,lapisan geomembran pertama, sistem pengumpulan dan pemindahan lindi serta lapisan pelindung. 

Geosintetik yang dimanfaatkan

Geosintetik yang dipakai untuk pada pembangunan pengelolaan limbah dari batu bara adalah ;

HDPE Geomembran,

yang digunakan untuk melapisi tanah dasar.Ketebalan minimum 1,5- 2 mm. Semua lapisan sintetik ini harus dipasang sesuai ketentuan ASTM D308-786 atau yang setara.Lapisan geomembran juga digunakan sebagai lapisan penutup dari timbunan

Geonet HDPE,

yang digunakan sebagai sistem pendeteksi kebocoran. Geonet HDPE tersebut harus memiliki transmisivitas planar sama dengan atau lebih besar dari transmisivitas planar bahan/tanah butiran setebal 30 cm dengan konduktivitas hidraulik jenuh 0,0001 m/s.

GCL (Geosynthetic Clay liner),

yang digunakan pada lapisan tanah penghalang dengan ketebalan minimum 6 mm. GCL tersebut berupa bentonit yang diselubungi oleh lapisan geotekstil. Jenis–jenis GCL adalah : Claymax, Bentomat, Bentofix atau yang sejenis.

Geotekstile Non Woven,

digunakan sebagai komponen teratas dari lapisan sistem pendeteksi kebocoran yang dilekatkan pada geonet pada proses pembuatannya.

Metode Sistem Lapisan Pada TPA